Rahasia UKM Naik Kelas: Mengenal Tipe Scaling Up dan Kunci Suksesnya di Indonesia

Share on Pinterest
Share on LinkedIn
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa ada usaha kecil yang tetap jalan di tempat, sementara yang lain bisa melesat menjadi perusahaan besar dalam waktu singkat? Fenomena ini dikenal dengan istilah scaling up.

Bagi kamu pemilik bisnis, memahami cara "naik kelas" bukan sekadar soal menambah karyawan, melainkan sebuah transformasi mendalam pada cara bisnismu beroperasi. Berdasarkan laporan OECD dan penelitian terbaru di Indonesia, yuk kita bedah bagaimana sebuah bisnis bertransformasi dan faktor apa saja yang paling menentukan keberhasilannya.

4 Model Transformasi Bisnis Saat Scaling Up (Versi OECD)

Laporan OECD menjelaskan bahwa scaling up bukanlah proses yang seragam. Setiap perusahaan punya "jalur" transformasinya masing-masing. Berikut adalah 4 model utama yang perlu kamu ketahui:

  1. Disruptive Innovators (Inovator Disrupsi) Bisnis tipe ini mengandalkan investasi besar pada teknologi dan riset (R&D). Kamu menciptakan produk yang benar-benar baru atau cara produksi yang jauh lebih efisien, sehingga mampu mendominasi pasar dengan cepat.
  2. Gradual Innovators (Inovator Bertahap) Tidak semua harus serba canggih dalam semalam. Tipe ini fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan proses produksi secara bertahap. Mereka menang karena konsisten menjadi lebih produktif dibanding kompetitornya.
  3. "More of the Same" Scalers Model ini adalah ekspansi murni tanpa mengubah model bisnis inti. Contohnya, jika kamu memiliki toko retail sukses di satu lokasi dan kemudian membuka cabang ke-10 dengan sistem yang sama persis.
  4. Demand-Driven Scalers (Dipacu Permintaan) Tipe ini naik kelas karena faktor eksternal, seperti lonjakan permintaan pasar yang tiba-tiba. Contoh nyata adalah lonjakan bisnis masker saat awal pandemi. Namun, karena sifatnya yang mengikuti tren pasar, pertumbuhan ini terkadang bersifat sementara jika tidak dikelola dengan strategi jangka panjang.

Faktor Penentu UKM Indonesia Bisa Naik Kelas

Beralih ke konteks lokal, salah satu tim expert Skale Up mengadakan penelitian mengenai topik ini dan telah diterbitkan di jurnal internasional. Penelitian tersebut menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk memetakan apa saja yang membuat UKM di Indonesia berhasil melakukan scale up.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan 6% UMKM untuk naik kelas dalam lima tahun ke depan. Berdasarkan riset tersebut, inilah urutan faktor yang paling berpengaruh bagi kamu:

  • Inovasi: Menjadi faktor terpenting. Tanpa keunikan atau pembaruan, bisnis akan sulit bersaing di level yang lebih tinggi.
  • Produktivitas: Seberapa efisien kamu menggunakan sumber daya untuk menghasilkan output menentukan keberlanjutan pertumbuhanmu.
  • Finansial: Akses terhadap modal tetap krusial untuk mendanai operasional dan ekspansi.
  • Modal Manusia: Memiliki tim dengan komposisi keahlian yang tepat sangat menunjang proses transisi perusahaan.
  • Pasar Global: Keberanian untuk melirik pasar luar negeri membuka peluang pertumbuhan yang jauh lebih besar.
  • Usia Perusahaan: Meski penting, pengalaman bukan satu-satunya jaminan. Perusahaan muda sekalipun punya peluang besar untuk melesat jika faktor lainnya terpenuhi.

Jadi, Yang Mana Jalurmu?

Menuju scale up adalah sebuah pilihan strategis. Kamu bisa memilih menjadi inovator yang mendisrupsi pasar atau tumbuh stabil dengan meningkatkan produktivitas harianmu. Yang terpenting, data menunjukkan bahwa inovasi dan efisiensi adalah "bahan bakar" utama agar UKM di Indonesia tidak sekadar bertahan, tapi benar-benar naik kelas.

Jadi, sudah siapkah bisnismu bertransformasi tahun ini? Yuk, obrolin tentang peluang bisnismu berkembang bersama expert tim Skale Up disini.

 

Referensi:

 

OECD (2021), Understanding Firm Growth: Helping SMEs Scale Up, OECD Studies on SMEs and Entrepreneurship, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/fc60b04c-en.

Identifying Influential Indonesian SMEs Scaling-up Factors: AHP Quantified. (2024). European Journal of Business and Management Research9(3), 119-124. https://doi.org/10.24018/ejbmr.2024.9.3.2312