Melampaui Target Penjualan: Mengoptimalkan Peran HR dan Marketing untuk Pertumbuhan Bisnis yang Stab

Share on Pinterest
Share on LinkedIn
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Melampaui Target Penjualan: Mengoptimalkan Peran HR dan Marketing untuk Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan


Sebagai sesama pemilik bisnis, kita sering mendengar kutipan, "Sales adalah napas bisnis." Kalimat ini memang ada benarnya; tanpa penjualan yang masuk, arus kas perusahaan bisa kering dan operasional terancam terhenti. Namun, di sisi lain, pernah tidak merasa tim operasional, HR, atau tim layanan pelanggan seolah-olah hanya menjadi "biaya" karena tidak langsung menghasilkan uang?

Sering kali kita terjebak dalam pola pikir bahwa setiap departemen harus dibebankan target pendapatan (revenue). Padahal, memaksakan target profit ke semua lini justru bisa mengaburkan fungsi strategis mereka. Hal ini dipertegas dalam penelitian berjudul "Bridging the Gap: Unleashing the Power of Non-Core Departments Through Interdepartmental Collaboration" oleh Ren & Wang (2024). Temuan mereka menunjukkan bahwa departemen non-inti justru memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan organisasi jika kolaborasi antar-departemen berjalan optimal.



1. HR: Investasi SDM yang Memangkas Biaya

Banyak pemilik bisnis melihat HR hanya dari sisi administratif. Padahal, HR yang strategis mampu meningkatkan inovasi. Dalam studi "The application of HRM Systems to Enhance the Innovation Activities of Foreign SMEs" oleh Menzies dkk. (2023), dijelaskan bahwa sistem manajemen SDM yang tepat dapat secara langsung memperkuat aktivitas inovasi pada UMKM. Ketika tim merasa diberdayakan, mereka bekerja lebih cerdas, mengurangi kesalahan, dan secara otomatis memangkas biaya operasional yang tidak perlu.



2. Marketing: Membangun Jalan untuk Sales

Kita perlu membedakan peran antara Marketing dan Sales. Marketing bertugas membangun kepercayaan publik dan mendatangkan calon pembeli (leads). Sejalan dengan penelitian berjudul "Digital Transformation in SMEs: Understanding its Determinants and Size Heterogeneity" oleh Clemente-Almendros dkk. (2024), transformasi digital yang dipelopori bagian pemasaran sangat membantu UMKM menghadapi tantangan bisnis yang kompleks. Marketing menciptakan ekosistem yang memudahkan terjadinya transaksi, sehingga efektivitas penjualan meningkat tanpa tim Sales harus bekerja ekstra keras sendirian.



3. Custumer Service dan Service Delivery: Menjaga Loyalitas Pelanggan

Di bisnis jasa atau produksi, tim operasional adalah garda depan kepuasan konsumen. Capoani & Izzo (2024) lewat tinjauan sistematisnya menekankan bahwa performa UMKM sangat dipengaruhi oleh faktor multidimensi, termasuk bagaimana layanan diberikan secara konsisten. Pelanggan yang puas akan melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan bisnis kita secara sukarela. Kontribusi mereka memang tidak terlihat di depan sebagai angka penjualan, tapi mereka adalah orang-orang yang memastikan kas perusahaan tetap stabil melalui retensi pelanggan.



Mengukur Kontribusi Lewat KPI Efisiensi

Alih-alih membebani semua departemen dengan target pendapatan, kita bisa menggunakan Key Performance Indicators (KPI) yang berfokus pada efisiensi. Sebagaimana dijelaskan oleh Olha Shumilo & Kateryna Zakordonets dalam karya mereka "Key Performance Indicators (KPI) – A Measure Of Business Success", KPI merupakan tolak ukur fundamental dalam mengevaluasi kesuksesan strategi sebuah perusahaan.

Berikut adalah beberapa indikator yang bisa kita terapkan:

  • Kecepatan Operasional: Mengurangi waktu produksi atau layanan tanpa mengurangi kualitas (misalnya dari 2 hari menjadi 1 hari).
  • Optimalisasi Output: Meningkatkan hasil produksi menggunakan sumber daya yang sudah ada agar lebih hemat biaya.
  • Ketepatan Waktu Delivery: Memastikan produk sampai ke tangan konsumen lebih cepat dari rata-rata pasar.

Dengan target yang terukur dan relevan, setiap bagian dalam bisnis akan bergerak harmonis menuju satu tujuan: pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Strategi ini membuktikan bahwa bisnis yang hebat bukan hanya soal seberapa besar uang yang masuk hari ini, tapi seberapa efisien sistem di dalamnya bekerja untuk masa depan.