Stop! Jangan Ambil Keputusan Saat Lagi HALT: Rahasia Sukses Bisnis dari "The Borton Letters"
Stop! Jangan Ambil Keputusan Saat Lagi HALT: Rahasia Sukses Bisnis dari "The Borton Letters"
Pernah merasa sangat capek setelah seharian mengurus stok
barang atau menghadapi komplain pelanggan, lalu tiba-tiba ada tawaran kerja
sama yang datang? Karena ingin cepat selesai, keputusan langsung diambil tanpa
pikir panjang. Hasilnya? Bukannya untung, bisnis malah bisa buntung.
Bagi pelaku UMKM di Indonesia, situasi
"grusa-grusu" seperti ini sering terjadi. Padahal, rahasia
pengambilan keputusan yang brilian bukan hanya soal data di atas kertas, tapi
soal kondisi emosional saat itu. Di dunia manajemen, buku legendaris "The
Borton Letters" tidak hanya dikenal karena kerangka AIDA
(Attention, Interest, Desire, Action), tetapi juga menekankan aturan HALT
dalam menjaga kualitas logika.
Mari bedah mengapa metode HALT adalah "rem" yang
wajib dimiliki setiap pengusaha.
Apa Itu HALT?
HALT adalah singkatan dari Hungry (Lapar), Angry (Marah),
Lonely (Kesepian), dan Tired (Lelah). Menurut prinsip dalam The
Borton Letters, manusia berada dalam kondisi paling rentan dan tidak
rasional ketika berada di salah satu dari empat kondisi ini.
Chris Myers dalam artikelnya di Forbes menekankan
bahwa bagi seorang entrepreneur, kondisi fisik dan mental adalah aset
perusahaan yang paling berharga. Kalau aset ini lagi "eror", maka
keputusan yang diambil pun akan berisiko tinggi.
Mengapa HALT Berbahaya Bagi Bisnis?
- Hungry
(Lapar): Bukan cuma perut kosong, tapi kadar gula darah yang turun
bikin fokus berkurang dan kita cenderung impulsif.
- Angry
(Marah): Rasa marah memicu keinginan untuk "menyerang".
Dalam bisnis, ini bisa merusak hubungan dengan vendor atau karyawan dalam
sekejap.
- Lonely
(Kesepian): Menjalankan usaha sendiri sering terasa sepi. Rasa ini
bisa bikin kita mengambil keputusan hanya demi mendapatkan validasi dari
orang lain, meski secara bisnis nggak menguntungkan.
- Tired
(Lelah): Burnout adalah musuh nyata. Saat lelah, otak mencari
jalan pintas (shortcut) yang sering kali mengabaikan risiko jangka
panjang.
Studi Kasus: UMKM "Katering Bu Sari"
Bayangkan contoh ini. Bu Sari adalah pemilik katering di
Bandung. Suatu sore, setelah begadang menyelesaikan 200 nasi kotak (Tired)
dan belum sempat makan siang (Hungry), ada telepon dari suplier baru.
Suplier itu menawarkan kontrak eksklusif dengan harga murah,
tapi harus deal hari itu juga. Karena ingin segera istirahat, Bu Sari langsung
mengiyakan lewat chat. Seminggu kemudian, baru sadar kalau kualitas bahannya
buruk dan ada klausul penalti yang merugikan. Seandainya menerapkan prinsip
HALT, Bu Sari pasti akan menunggu sampai kondisinya stabil sebelum memutuskan.
Pro Tips: Jadi Apa yang Harus Dilakukan?
Kalau merasa sedang berada dalam kondisi HALT, jangan
paksakan diri untuk berpikir keras. Sesuai dengan definisi “halt” sendiri yang
berarti menghentikan, menahan atau menjeda, maka berhenti sejenak dan alihkan
energi ke hal lain agar pikiran kembali jernih adalah keputusan yang bijak.
Berikut tips pengambilan keputusan yang bisa dipraktikkan:
- Menulis
(Write): Tuangkan kekhawatiran atau pilihan yang ada ke dalam kertas
untuk melihat masalah secara lebih objektif.
- Bergerak
(Run, Walk, Jog): Aktivitas fisik membantu menurunkan tingkat stres
dan meningkatkan hormon endorfin yang bikin pikiran lebih tenang.
- Bicara
(Talk): Ngobrol dengan mentor atau sesama pemilik UMKM untuk
mendapatkan perspektif luar.
Intinya...
Menjalankan UMKM di Indonesia memang penuh tantangan, tapi
senjata terkuat kita adalah kebijaksanaan dalam melangkah. Seperti yang
diingatkan oleh The Borton Letters dan Forbes, jangan biarkan
kondisi fisik yang sementara merusak visi jangka panjang bisnis.
Ingat: H.A.L.T. sebelum bertindak. Bisnis yang sehat
dimulai dari pemimpin yang sadar akan kondisi dirinya sendiri.
