Stop! Jangan Ambil Keputusan Saat Lagi HALT: Rahasia Sukses Bisnis dari "The Borton Letters"

Share on Pinterest
Share on LinkedIn
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Stop! Jangan Ambil Keputusan Saat Lagi HALT: Rahasia Sukses Bisnis dari "The Borton Letters"

Pernah merasa sangat capek setelah seharian mengurus stok barang atau menghadapi komplain pelanggan, lalu tiba-tiba ada tawaran kerja sama yang datang? Karena ingin cepat selesai, keputusan langsung diambil tanpa pikir panjang. Hasilnya? Bukannya untung, bisnis malah bisa buntung.

Bagi pelaku UMKM di Indonesia, situasi "grusa-grusu" seperti ini sering terjadi. Padahal, rahasia pengambilan keputusan yang brilian bukan hanya soal data di atas kertas, tapi soal kondisi emosional saat itu. Di dunia manajemen, buku legendaris "The Borton Letters" tidak hanya dikenal karena kerangka AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), tetapi juga menekankan aturan HALT dalam menjaga kualitas logika.

Mari bedah mengapa metode HALT adalah "rem" yang wajib dimiliki setiap pengusaha.



Apa Itu HALT?

HALT adalah singkatan dari Hungry (Lapar), Angry (Marah), Lonely (Kesepian), dan Tired (Lelah). Menurut prinsip dalam The Borton Letters, manusia berada dalam kondisi paling rentan dan tidak rasional ketika berada di salah satu dari empat kondisi ini.

Chris Myers dalam artikelnya di Forbes menekankan bahwa bagi seorang entrepreneur, kondisi fisik dan mental adalah aset perusahaan yang paling berharga. Kalau aset ini lagi "eror", maka keputusan yang diambil pun akan berisiko tinggi.

Mengapa HALT Berbahaya Bagi Bisnis?
  1. Hungry (Lapar): Bukan cuma perut kosong, tapi kadar gula darah yang turun bikin fokus berkurang dan kita cenderung impulsif.
  2. Angry (Marah): Rasa marah memicu keinginan untuk "menyerang". Dalam bisnis, ini bisa merusak hubungan dengan vendor atau karyawan dalam sekejap.
  3. Lonely (Kesepian): Menjalankan usaha sendiri sering terasa sepi. Rasa ini bisa bikin kita mengambil keputusan hanya demi mendapatkan validasi dari orang lain, meski secara bisnis nggak menguntungkan.
  4. Tired (Lelah): Burnout adalah musuh nyata. Saat lelah, otak mencari jalan pintas (shortcut) yang sering kali mengabaikan risiko jangka panjang.



Studi Kasus: UMKM "Katering Bu Sari"

Bayangkan contoh ini. Bu Sari adalah pemilik katering di Bandung. Suatu sore, setelah begadang menyelesaikan 200 nasi kotak (Tired) dan belum sempat makan siang (Hungry), ada telepon dari suplier baru.

Suplier itu menawarkan kontrak eksklusif dengan harga murah, tapi harus deal hari itu juga. Karena ingin segera istirahat, Bu Sari langsung mengiyakan lewat chat. Seminggu kemudian, baru sadar kalau kualitas bahannya buruk dan ada klausul penalti yang merugikan. Seandainya menerapkan prinsip HALT, Bu Sari pasti akan menunggu sampai kondisinya stabil sebelum memutuskan.



Pro Tips: Jadi Apa yang Harus Dilakukan?

Kalau merasa sedang berada dalam kondisi HALT, jangan paksakan diri untuk berpikir keras. Sesuai dengan definisi “halt” sendiri yang berarti menghentikan, menahan atau menjeda, maka berhenti sejenak dan alihkan energi ke hal lain agar pikiran kembali jernih adalah keputusan yang bijak.

Berikut tips pengambilan keputusan yang bisa dipraktikkan:

  • Menulis (Write): Tuangkan kekhawatiran atau pilihan yang ada ke dalam kertas untuk melihat masalah secara lebih objektif.
  • Bergerak (Run, Walk, Jog): Aktivitas fisik membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan hormon endorfin yang bikin pikiran lebih tenang.
  • Bicara (Talk): Ngobrol dengan mentor atau sesama pemilik UMKM untuk mendapatkan perspektif luar.



Intinya...

Menjalankan UMKM di Indonesia memang penuh tantangan, tapi senjata terkuat kita adalah kebijaksanaan dalam melangkah. Seperti yang diingatkan oleh The Borton Letters dan Forbes, jangan biarkan kondisi fisik yang sementara merusak visi jangka panjang bisnis.

Ingat: H.A.L.T. sebelum bertindak. Bisnis yang sehat dimulai dari pemimpin yang sadar akan kondisi dirinya sendiri.